Petir Di Siang Hari
Saat itu Bapak dan Ibu ku pergi ke sawah bersama tetangga-tetangga yang lainnya. Ada seseorang yang kaya raya di dekat rumah ku, sawahnya sudah memasuki waktu panen. Karena itu Bapak dan Ibu serta tetangga-tetangga lainnya membantu panen padi miliknya. Yang Ku ingat hari itu adalah hari Minggu dan aku mendapat tugas menjaga adik ku yang berumur 7 bulan. Walau umurku baru 10 tahun aku sudah diberikan tanggung jawab bisa menjaga adik ku dengan baik. Ya mulai dari memandikannya, bersih-bersih rumah, nyuci baju dan sebagainya. Di umurku yang 10 tahun itu.. jiwa anak-anak pada diriku juga masih melekat. Karena itu, akupun masih suka berkumpul dan bermain dengan teman-teman sebaya ku. Ya meski aku hanya melihat saja tanpa ikut maen bagiku tidak masalah. Karena aku punya tanggung jawab yang lebih penting yaitu menjaga adik ku sebaik mungkin. Oleh sebab itu kemanapun aku pergi adik ku selalu ada di gendonganku.
Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang lebih, rasa hawatirku bercampur padu karena orang tuaku dan tetangga-tetangga lainnya belum pulang dari panen padi itu. Semakin berkecamuk hatiku ketika petir di siang hari dan hujan mulai turun begitu derasnya disertai angin pula. Keadaan rumah banyak yang bocor. Ya hampir mirip seperti inilah keadaan rumah ku saat itu.
Apalagi ditambah adik ku yang saat itu menangis terus mendengar suara-suara petir bersahut-sahutan. Seolah petir itu berada diatas rumah ku karena begitu kencangnta suaranya. Aku menidurkan adik ku.. kuberikan dia susu lalu aku puk-puk biar dia segera tidur dan Alhamdulillah tak lama kemudian adikku bisa tidur juga.
Kemudian rasa hawatirku kini menuju ke orangtua ku mereka tak pulang-pulang. Dimana mereka meneduh, hujan petir seperti ini sangat berbahaya jika masih berada di sawah. Tak berhenti mulut ini komat kamit berdoa kepada Allah SWT agar melindungi kedua orang tua ku. Agar orangtua ku baik-baik saja dan segera pulang. Lama tak kunjung pulang akhirnya aku menyusul tidur di samping adik ku setelah menutup semua pintu rumah. Bukan takut ada maling atau apa, cuma pintu ditutup biar ayam tidak masuk ke dalam rumah. Dan ketika aku bangun tidur orang tua ku sudah ada di rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar