Selasa, 13 September 2016

Bukan Kasih Tak Sampai
Tapi
Kasih yang Ruwet


Apa itu cinta ? saat kecil aku pernah bertanya dalam hati apa itu arti cinta. Cinta itu bentuknya seperti apa dan bagaimana rasanya. Ingin sekali aku merasakan cinta seperti yang orang-orang bilang. Kata mereka cinta itu bisa membuat orang menjadi gila. Aahh apa iya kataku.

Saat itu aku aku masih kelas 6 SD. Aku bertemu dengan seorang pemuda kampung salah satu aktivis di Masjid. Awalnya aku hanya menumpang meneduh karena hujan di emperan rumah orang. Aku tahu siapa pemilik rumah itu, dia bernama Pak Parno. Dari dalam rumah Pak Parno keluarlah pemuda itu. Baru pertama kali ini aku melihatnya. 

Dia menghampiri aku, lalu dia berkata " Hai Mbak... silahkan meneduh di dalam rumah saja. Nanti disini tambah kehujanan."

" Ga usah mas, terima kasih banyak atas tawarannya. saya meneduh disini saja" jawab Ku.

" Baiklah kalau begitu " sahut dia lagi. 

Lalu dia memperkenalkan dirinya dan mengajak ngobrol panjang kali lebar denganku.  Ternyata dia adalah keponakan dari yang punya rumah itu. Umur dia terpaut 3 tahun lebih tua dariku.  Dia juga sedang maen disana. Dan rumah dia sendiri sebenarnya ada di belakang rumah ini. Pantas saja aku tak begitu mengenalnya.

Dan hujanpun mulai reda lalu aku pamit pulang sama dia.
"terima kasih ya.. sudah di ijinkan meneduh disini..."

"Iya sama-sama " jawab dia padaku sambil tersenyum.

Akupun melambaikan tangan padanya dan mulai mengayuh sepedaku berlalu meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan aku tersenyum-senyum sendiri. Karena baru kali ini aku mengobrol dengan cowok selain teman-teman di kelas Ku. Rasanya sedikit aneh, antara takut seneng dan campur aduk.


Waktu pun berlalu menjadi malam dan saatnya untuk taraweh. Karena malam ini sudah masuk Bulan Ramadhan.

Siap-siap menuju Mushola bersama dengan teman-teman. Cari tempat yang wenak untuk sholat nanti. karena kalau tidak cepat datang bisa-bisa kehabisan tempat. Setelah sampai di Mushola aku langsung menata sajadah dan mukena aku. Lalu aku tinggal ambil wudhu. Karena Mushola itu lebih kecil dari pada Masjid maka tempat ambil wudhu nya jadi satu dengan laki-laki. Ya otomatis antri bergantian gitu. Ketika lagi antri, ada yang memanggil namaku. 

"Hai Lia... " 

Aku pun menengok ke arah suara yang memanggil aku

" Eh Anto... kamu disini juga ? kebetulan banget yah.. bisa ketemu lagi" kataku sambil tersenyum.

"Iya nih, kamu ternyata sholatnya disini juga ? " tanya dia padaku.

"Iyah.. aku bersama dengan teman-teman aku Sholat disini, karna mau minta tanda tangan Imam untuk tugas sekolah" jawabku padanya.

" Ya sudah kamu ambil Wudhu duluan, itu sudah giliran kamu" kata Anto.

Aku anggukkan kepalaku sebagai tanda setuju. Setelah selesai aku pun langsung masuk Mushola. Dan tarawehpun segera dimulai.

Semakin hari aku dan dia semakin dekat dan saling mengenal. Karena setiap hari kami bertemu. Dan suatu malam waktu aku pulang dari sholat tarawih bersama teman-teman, ada yang memanggilku dari arah gelap-gelapan. Sempat takut untuk melihatnya namun yang memanggil akhirnya keluar juga.

" Hai Lia... "sapa Anto padaku.
" Hai juga.. ada apa ya..? " tanya ku pada dia dengan expresi muka salah tingkah memerah.
" Aku suka kamu. Kamu mau tidak jadi pacarku ???? " tanya dia sambil meraih tanganku.
" emm...ehh... " aku bingung mau jawab apa.. saat itu teman teman memanggilku juga. Aku minta maaf ke dia teman-temanku sudah menunggu dan bilang ke dia besok ya jawabnya. Dia pun tak masalah dan tersenyum manis untukku.
Setelah itu aku tak bisa tidur, bagai ada bunga di sekelilingku. Manis,,, indah dan tak bisa dibayangkan. Apakah ini yang dinamakan cinta. Apakah di umurku yang masih belia ini sudah bisa merasakan cinta??? atau hanya suka serta kagum saja ? Entahlah saat itu aku begitu menikmati rasa yang memenuhi rongga dadaku.

Aku tahu, jika aku pacaran pasti keluarga aku marah. Terutama mamaku, bisa-bisa hancur semua perabotan yang ada di rumah. Lagi pula aku harus fokus pada sekolahku dulu. Bentar lagi mau Ujian Nasional.






Petir Di Siang Hari


       Saat itu Bapak dan Ibu ku pergi ke sawah bersama tetangga-tetangga yang lainnya. Ada seseorang yang kaya raya di dekat rumah ku, sawahnya sudah memasuki waktu panen. Karena itu Bapak dan Ibu serta tetangga-tetangga lainnya membantu panen padi miliknya. Yang Ku ingat hari itu adalah hari Minggu dan aku mendapat tugas menjaga adik ku yang berumur 7 bulan. Walau umurku baru 10 tahun aku sudah diberikan tanggung jawab  bisa menjaga adik ku dengan baik. Ya mulai dari memandikannya, bersih-bersih rumah, nyuci baju dan sebagainya. Di umurku yang 10 tahun itu.. jiwa anak-anak pada diriku juga masih melekat. Karena itu, akupun masih suka berkumpul dan bermain dengan teman-teman sebaya ku. Ya meski aku hanya melihat saja tanpa ikut maen bagiku tidak masalah. Karena aku punya tanggung jawab yang lebih penting yaitu menjaga adik ku sebaik mungkin. Oleh sebab itu kemanapun aku pergi adik ku selalu ada di gendonganku.

Hasil gambar untuk anak masih kecil menggendong adiknya

             Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang lebih, rasa hawatirku bercampur padu karena orang tuaku dan tetangga-tetangga lainnya belum pulang dari panen padi itu. Semakin berkecamuk hatiku ketika petir di siang hari dan hujan mulai turun begitu derasnya disertai angin pula. Keadaan rumah banyak yang bocor. Ya hampir mirip seperti inilah keadaan rumah ku saat itu. 

            Hasil gambar untuk rumah joglo jaman dulu jelek

Apalagi ditambah adik ku yang saat itu menangis terus mendengar suara-suara petir bersahut-sahutan. Seolah petir itu berada diatas rumah ku karena begitu kencangnta suaranya. Aku menidurkan adik ku.. kuberikan dia susu lalu aku puk-puk biar dia segera tidur dan Alhamdulillah tak lama kemudian adikku bisa tidur juga.
           
           Kemudian rasa hawatirku kini menuju ke orangtua ku mereka tak pulang-pulang. Dimana mereka meneduh, hujan petir seperti ini sangat berbahaya jika masih berada di sawah. Tak berhenti mulut ini komat kamit berdoa kepada Allah SWT agar melindungi kedua orang tua ku. Agar orangtua ku baik-baik saja dan segera pulang. Lama tak kunjung pulang akhirnya aku menyusul tidur di samping adik ku setelah menutup semua pintu rumah. Bukan takut ada maling atau apa, cuma pintu ditutup biar ayam tidak masuk ke dalam rumah. Dan ketika aku bangun tidur orang tua ku sudah ada di rumah.